20 September 2009

Noordin M. Top Tewas, Teror Usai?

Tim Densus 88 Antiteror berhasil menumpas gembong teroris nomor 1 di Indonesia, Noordin M. Top, di Desa Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo. Kabar tersebut langsung disambut gembira oleh rakyat Indonesia yang telah lama menanti tertangkapnya Noordin M. Top. Presiden dan Wakil Presiden RI pun turut bangga atas keberhasilan Polri dalam menumpas terorisme. Namun, hal itu belum menjamin bahwa kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia telah bebas dari ancaman teror bom. Masih ada buronan teroris lain yang masih belum tertangkap, yaitu Syaifuddin Zuhri alias Syaifuddin Jaelani dan Muhammad Syahrir alias Aing. Kemungkinan besar kedua orang ini akan menggantikan tugas Noordin untuk merekrut 'calon pengantin' baru untuk bersedia melakukan aksi bom bunuh diri. Hal ini tentunya membuat Polri harus bekerja ekstra keras untuk menumpas gembong teroris di negeri ini. Rakyat Indonesia berharap agar kinerja Polri, khususnya tim Densus 88 dalam memburu teroris terus ditingkatkan agar bangsa Indonesia bisa terbebas dari ancaman bom yang selama ini terus mengancam negeri ini.
Baca Selengkapnya....

27 Agustus 2009

Pelecehan Malaysia Terhadap Indonesia

Malaysia yang katanya serumpun dengan Indonesia telah melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi. Malaysia telah melecehkan bangsa Indonesia dengan cara mengubah lirik lagu Indonesia Raya menjadi Indonsial. Saya atas nama Bangsa Indonesia merasa terlecehkan atas perlakuan salah seorang warga Malaysia tersebut. Saya merasa bahwa sesungguhnya yang merasa "kemalingan" adalah kami sebagai bangsa Indonesia sendiri. Beberapa kebudayaan Indonesia seperti Reog Ponorogo, Tari Pendet, wayang kulit, lagu Rasa Sayange, dan beberapa kebudayaan Indonesia lainnya yang tidak dapat saya sebutkan dalam tulisan ini telah diklaim sebagai milik Malaysia. Padahal kebudayaan-kebudayaan tersebut telah mendarahdaging di tanah asalnya, yaitu Indonesia. Blogger Malaysia yang telah mengubah lirik lagu tersebut harus meminta maaf secara terbuka dihadapan seluruh bangsa Indonesia karena hal itu telah menyakiti perasaan bangsa Indonesia.
Baca Selengkapnya....

08 Agustus 2009

Noordin M. Top akhirnya tewas

Teroris yang paling diburu di Indonesia, Noordin M. Top, akhirnya tewas dalam sebuah aksi baku tembak yang dilakukan oleh tim Densus 88 Polri di rumah salah seorang warga di Desa Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung pada tanggal 8 Agustus 2009. Baku tembak tersebut terjadi sejak tanggal 7 Agustus 2009. Selama berlangsungnya baku tembak tersebut, terdengar beberapa ledakan yang berasal dari rumah tersebut. Setelah terjadi baku tembak selama 20 jam, Noordin M. Top akhirnya tewas di dalam kamar mandi rumah tersebut pada pukul 10.00 pagi. Sebelum tewas, Noordin sempat berteriak " Saya Noordin ". Selama pengepungan, Noordin memanfaatkan beberapa barang-barang yang berada di dalam rumah tersebut untuk melindungi diri dari tembakan para polisi. Mayat Noordin ditemukan dengan sebuah bom yang melilit di tubuhnya.
Polisi memastikan bahwa rumah tersebut terdapat hanya satu orang. Noordin menginap di rumah itu selama dua malam. Sehari sebelumnya, ia menginap di kompleks kuburan dekat rumah itu.

Baca Selengkapnya....

04 Agustus 2009

Mbah Surip Telah Wafat

Urip Ariyanto, atau yang biasa dipanggil dengan nama Mbah Surip, telah wafat pada hari Selasa, 4 Agustus 2009 pukul 10.30 WIB. Penyanyi yang terkenal dengan lagu "Tak Gendong" tersebut sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.
Sebelum menjadi penyanyi, Mbah Surip pernah menjalani berbagai profesi. Mulai pekerjaan di pengeboran minyak, tambang berlian, bahkan lelaki yang memiliki gelar Drs, Insinyur, dan MBA ini pernah mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California.
Karena ingin mengadu nasib, Mbah Surip pergi menuju Jakarta dan bergabung dengan komunitas seniman seperti Teguh Karya, Aquila, Bulungan, dan Taman Ismail Marzuki. Dalam perjalanannya sebagai pemusik, ia telah mengeluarkan beberapa album sejak tahun 1997. Beberapa albumnya seperti IJO ROYO-ROYO (1997), INDONESIA I (1998), REFORMASI (1998), TAK GENDONG (2003), dan BARANG BARU (2004).
Diambil dari berbagai sumber
Baca Selengkapnya....

16 Mei 2009

Bumiku Sayang, Bumiku Malang

Saat ini, sudah banyak sekali gas-gas rumah kaca yang telah tersebar di bumi ini akibat dari pembuangan asap kendaraan bermotor. Hal tersebut ternyata diperparah dengan penebangan pohon secara liar tanpa menanamnya kembali. Hal ini tentu saja dapat memperparah global warming atau pemanasan global yang tengah terjadi saat ini. Banyak kelompok-kelompok yang mengatasnamakan pemerhati lingkungan telah melakukan berbagai kegiatan untuk menyelamatkan bumi ini dari kehancuran, seperti kegiatan penanaman pohon bakau di pesisir pantai dan penanaman hutan di sekolah.

Selain itu, kelompok-kelompok tersebut juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara menanggulangi dan mengurangi efek dari pemanasan global. Hal tersebut ternyata mendapat antusias dan respon yang tinggi dari masyarakat yang telah lama merindukan bumi sebagai tempat tinggal mereka kembali hijau seperti sedia kala. Masyarakat sekarang sudah banyak yang tahu bagaimana cara mengolah kompos dengan baik, memisahkan sampah basah dan kering, dan kegiatan lainnya. Bahkan ada salah satu karyawan kantor di wilayah Surabaya yang rela mengayuh sepeda kesayangannya sejauh kurang lebih 20 kilometer untuk mencapai kantornya demi menyelamatkan bumi kita yang semakin parah ini. Sudahkah kita melakukan usaha-usaha mulai dari hal yang terkecil demi menyelamatkan bumi kita dari pemanasan global?
Baca Selengkapnya....

Pendidikan Indonesia Saat Ini

Sistem pendidikan Indonesia saat ini bisa dibilang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Sistem pendidikan Indonesia saat ini lebih menekankan pada sikap para siswa agar lebih aktif lagi dalam menempuh pendidikan. Meskipun demikian, banyak kekurangan-kekurangan dalam sistem pendidikan negara kita ini. Sarana dan prasarana yang kurang menunjang, terutama di daerah pedesaan yang terpencil membuat para siswa menjadi kesulitan dalam menempuh pendidikannya. Belum lagi dengan tingkat kesejahteraan tenaga pengajar yang masih rendah. Masyarakat harusnya ikut membantu pemerintah dalam mensukseskan program-program pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Biaya pendidikan yang semakin mahal jelas sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Hal ini tentu menyebabkan siswa terancam putus sekolah yang dikarenakan orang tuanya tidak sanggup untuk membayar biaya sekolah yang semakin mahal tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah membuat program 'Sekolah Gratis' untuk jenjang SD Negeri dan SMP Negeri (kecuali SBI dan RSBI). Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan Kota Surabaya juga telah mencanangkan program Wajib Belajar 12 tahun (SD, SMP, dan SMK). Pada tahun-tahun sebelumnya, Depdiknas juga membuat program 'Biaya Operasional Sekolah (BOS)'. Namun, setelah program BOS dilaksanakan, banyak terjadi penyelewengan dana BOS oleh pihak sekolah. Pemerintah berharap dengan diadakannya program Sekolah Gratis tersebut anak-anak Indonesia yang tidak dapat bersekolah dapat bersekolah lagi karena seluruh biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah.
Baca Selengkapnya....

23 April 2009

Jalan-jalan keliling Sby-Blitar

Sabtu 18 April 2009, aku berangkat dari St. Surabaya Kota dgn KA Penataran dengan tujuan akhir St. Blitar lewat Malang yang berangkat jam 10.20(harusnya). Tapi karena ada sesuatu yang tidak aku ketahui, akhirnya keberangkatanku molor +10 menit. Ketika masih di St. Surabaya Kota, suasana kereta masih sepi. Kereta mulai ramai ketika sampai di St. Surabaya Gubeng. Suasana penuh sesak pun terasa. Ketika kereta melewati Porong, semua mata tertuju pada tanggul raksasa penahan lumpur Lapindo. Bencana tersebut ternyata membuat mata hati para penumpang tersentuh. Para penumpang pun membicarakan bencana yang memilukan itu. Mereka mengatakan bahwa Lapindo seharusnya bertanggungjawab penuh atas terjadinya bencana itu.
Setelah kereta meninggalkan St. Porong, suasana kereta bertambah sesak. Hal itu dikarenakan banyaknya penumpang yang akan melakukan perjalanan ke wilayah Malang hingga Kediri dengan menggunakan jasa angkutan kereta api. Sesampainya di St. Blitar, aq bergegas turun untuk membeli tiket KA Rapih Dhoho dengan tujuan akhir Surabaya Kota lewat Kertosono. Kereta berjalan perlahan ketika melewati jalur Kediri-Jombang yang disebabkan oleh turunnya hujan yang membuat rel menjadi licin. Sesampainya di Kertosono, kereta sempat berhenti sangat lama, sekitar 30 menit karena lokomotif KA Rapih Dhoho harus memutar haluan sambil menunggu silang dengan KA Bima dengan relasi St. Surabaya Kota St. Gambir, Jakarta. Setelah KA Bima masuk St. Kertosono, KA Rapih Dhoho yang aku tumpangi akhirnya diberangkatkan oleh PPKA St. Kertosono. Ketika kereta lepas dari St. Jombang, laju kereta kembali cepat. KA Rapih Dhoho sampai di St. Surabaya Kota pada pukul 21.00 tepat. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan
Baca Selengkapnya....

Blogger Indonesia